Pendanaan Bisnis Properti (Hanya Sebuah Pemikiran)

Tulisan ini muncul sebagai buah pemikiran/ide yang saya dapatkan dari pengalaman istri saat mengikuti sebuah seminar mengenai bagaimana mendapatkan dan mengelola modal (keuangan) yang awalnya diperkirakan menarik dan akan memperoleh ilmu yang mendalam namun saat pulang dari seminar tersebut ternyata istri mengatakan kebanyakan membahas yang ternyata sebagian besar sudah diketahuinya dan yang selama ini dialaminya; yaitu bagaimana mendapatkan dana dari bank, syarat-syarat pengajuan kredit… tanpa diberitahu bagaimana cara mengelola dana yang didapat yang merupakan janji diawal saat mengikuti preview seminar tersebut… Syarat-syarat pengajuan kredit dan berbagai kelengkapan yang harus dipenuhi dapat ditanyakan ke marketing bank saat pengajuan pinjaman ke bank tanpa harus mengikuti seminar berbayar mahal.

Kembali ke tujuan awal tulisan saya, saat memulai Bisnis properti yang terlintas pertama dalam pikiran adalah masalah modal atau pendanaan. Ini adalah halangan pertama dan terbesar yang selalu menjadi momok yang harus ditangani dan sering membuat mimpi kandas ditengah jalan. Hal ini juga yang kami alami saat pertama ingin memulai membangun kos-kosan. Segala daya pemikiran, dan tenaga dikerahkan untuk mendapatkan sumber modal tersebut.Namun yang akan saya bahas disini bukan hal ini karena saya yakin sudah banyak tulisan yang membahas mengenai hal ini di dunia maya.

Bahasan saya lebih ke kalau sudah punya modal dana untuk berbisnis properti, apakah modal dana yang sudah ada tersebut yang digunakan untuk berbisnis? Disinilah pemikiran saya muncul setelah berdiskusi bersama istri dari hasil seminar yang diikutinya.

 

Pemikiran 1.

Jika sudah memiliki modal dana, sebaiknya modal dana tersebut dimasukkan dalam rekening bank agar tercatat dan biarkan mengendap selamat 1-6 bulan. (6 bulan kelamaan kali ya hehehe)

Sementara itu cari tanah/ rumah/ ruko/ properti yang diincar.

Setelah mendapatkan properti yang cocok, ajukan kredit (KPR, Multiguna, KTA, dll) untuk pembelian, pembangunan, dan/atau renovasi properti tersebut.

Biasanya sebagai salah satu syarat, bank akan meminta copy buku tabungan/ rekening dalam 6 bulan terakhir. Maka berikan copy buku tabungan/ rekening yang mencatat simpanan uang yang dimiliki. Besar dana yang dimiliki tersebut akan sangat membantu dalam pengajuan kredit.

Kalau bisa ajukan kredit untuk beberapa properti, namun jangan sampai batas plafon maksimal kredit yang diperbolehkan (Maksimal kalau tidak salah adalah: cicilan kredit bulanan = 30%-50% dari penghasilan bulanan)

Selama masa renovasi atau pembangunan, gunakan uang yang ada untuk menyicil kredit.

Segera tawarkan properti yang sedang direnovasi/ dibangunan. Kalau bisa renovasi/ pembangunan dilakukan secepat mungkin.

Jika ada properti yang laku, kembali masukkan keuntungan dari penjualan properti tersebut ke rekening di bank.

Semua transaksi sehubungan dengan renovasi/pembangunan dan jual beli properti tersebut sebaiknya melalui rekening yang dimiliki tersebut agar tercatat di bank.

Jumlah dana yang terdapat di rekening dan arus keluar masuk rekening yang lancar sangat membantu saat pengajuan kredit.

Ulangi lagi dimulai langkah 2.. begitu seterusnya.


Pemikiran 2.

Ini menurut saya agak lebih menantang dan lebih teliti, lebih mudah mendapatkan dana.

Simpan modal dana yang telah dimiliki dalam rekening dibeberapa bank dengan dipecah-pecah, contoh: 500jt disimpan ke 10 bank masing-masing 50jt atau 20 bank masing-masing 25jt. Atau 5 bank masing-masing 100jt.

Saat membuka rekening tabungan di bank, sekalian minta dibukakan Kartu Kredit.

Minta kartu kredit dengan nilai maksimal sebesar tabungan yang akan dibuka.

Sebelumnya harus survei bank yang menerbitkan Kartu Kredit dengan bebas fee selamanya, dan tiap Kartu Kredit memiliki fitur pengalihan tagihan.

Tarik tunai maksimal masing-masing kartu kredit dengan jarak tiap bulan (jangan bersamaan), sisakan 1 atau 2 KK sebagai kartu pengalihan tagihan nantinya. Karena kartu kredit harus dibayar lunas tiap akhir bulan saat jatuh tempo. Alihkan tagihan yang akan jatuh tempo ke kartu yang belum digunakan.

Gunakan uang yang ditarik untuk membeli/renovasi properti yang telah dicari sebelumnya.

Setelah nilai properti memiliki keuntungan segera jual dan tutup pinjaman kartu kredit, atau gunakan keuntungan untuk membeli properti lainnya.

Dengan cari ini harus lebih teliti mengetahui tanggal cetak KK dan tanggal jatuh tempo masing-masing KK agar tidak terkena bunga.

Pangaturan arus modal dana dengan cari ini lebih menantang, namun lebih sederhana dalam mendapatkan dana.

 

Tulisan ini hanya buah pemikiran, yang intinya ingin memberikan ide bahwa “Jangan cari modal saat butuh saja, tapi carilah modal saat sebenarnya sudah memiliki modal”.

Kami belum pernah menarapkan pemikiran ini, namun berencana melakukannya… masih dipikir-pikir (Peringatan: bagi pembaca yang akan/sudah menerapkan, resiko untung atau rugi ditanggung sendiri!!). Semoga berkenan dan sukses selalu!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s