Terbang Bersama Citilink…

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Setelah menghadiri pemakaman ayah saya di Makassar, pada 23 Januari 2016 sekitar jam 2 siang, saya, istri bersama anak kembali ke Surabaya. Untuk itu saya memutuskan untuk menggunakan Citilink (pesawat hijau) yang merupakan anak perusahaan Garuda Indonesia (pesawat biru) untuk penerbangan dengan biaya terjangkau. Saya telah menggunakan Citilink dalam beberapa kesempatan untuk penerbangan pendek Surabaya – Makassar vv dan sejauh ini tidak pernah bermasalah walaupun mengalami beberapa kali penundaan dalam rentang waktu 30 – 1 jam.

Sebagai jasa penerbangan berbiaya terjangkau dengan rute pendek, Citilink, menurut saya sudah bagus versus jasa penerbangan sekelas dalam hal harga – ketepatan waktu –  pelayanan petugas darat dan udara, dan pesawatnya sendiri, walaupun dibandingkan dengan Garuda Indonesia masih terasa tertinggal jauh J… ada idiom di Indonesia, “Bayar murah kok pengen enak” hehehe… sangat melecehkan memang… tapi jika murah dengan pelayanan bagus kenapa tidak…

Selama penerbangan, pesawat akan cukup terguncang saat masuk dalam cuaca yang berawan, penumpang tidak diberikan makanan atau minuman ringan, yang ada adalah dipesawat disediakan makanan/minuman yang dijual.

Satu hal yang saya perhatikan adalah, saat mendarat ternyata pesawat mendarat sangat halus dan mulus… wow… apakah ini karena pesawat yang baru atau karena keahlian sang Pilot (saya berharap keduanya).

Saat kembali dari Surabaya ke Makassar saya kembali menggunakan Citilink pagi hari, tanggal 4 Feb 2016, jam 7.45 dari Surabaya… kali ini pesawat tepat waktu dan mendarat mulus di Makassar…

Semoga Citilink mempertahankan pelayanannya, dan berharap malah semakin ditingkatkan… ya sebotol air putih kemasan 600ml sudah cukup hehehe….

Iklan

Fort Rotterdam Makassar

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Salah satu lokasi yang dapat dikunjungi oleh wisatawan di Makassar adalah Benteng Ujung Pandang atau Fort Rotterdam sebagaimana dituliskan di plakat kecil terletak bagian atas gerbang depan benteng tersebut. Dari nama ini tersebut pengunjung pastinya langsung berpendapat benteng tersebut adalah peninggalan Kerajaan Belanda. Benar, benteng tersebut memang pernah digunakan oleh Belanda namun ternyata benteng tersebut dibangun dan digunakan oleh Kerajaan Gowa sebelum digunakan oleh penjajah Belanda.

Pada tanggal 19 Januari 2016 saya bersama keluarga kembali berkunjung ke benteng tersebut setelah sebelumnya terakhir kali berkunjung saat masih bersekolah di Makassar dalam kunjungan karya wisata SMAN 2 Makassar tempat saya bersekolah sekitar tahun 1988.

Bangunan didalam benteng masih terawat dengan baik jika dilihat sekilas dari luar, namun saat mengintip kedalam sepertinya ada beberapa ruangan yang digunakan sebagai tempat tinggal (semoga saya salah). Saya tidak masuk ke dalam gedung sebagaimana yang saya lakukan saat berkunjung terakhir kalinya, hanya berjalan-jalan menyusuri jalur jalan ditengah dan didinding benteng. Sepertinya ada beberapa bagian benteng yang rusak, karena setahu/seingat saya saat SMA bagian atas dinding dalam benteng terhubung satu sama lain dan dapat diputari. Namun saat akan melakukannya kembali ternyata ada bagian yang tidak dapat dilalui (sekali lagi semoga saya salah).

Saat berkunjung ternyata benteng tersebut juga digunakan sebagai area yang menarik digunakan dalam sesi fotografi karena terdapat beberapa model dan fotografer yang sedang melakukan sesi foto dan juga digunakan oleh sebuah group dancing dalam berlatih.

Dapat terlihat betapa kokoh dan pentingnya benteng tersebut saat itu dengan masih utuh dan tetap tersusunnya sebagian besar bebatuan dengan baik walaupun telah melalui, yang saya percaya, berbagai peperangan dan terpaan cuaca/iklim pantai.

Semoga pemerintahan daerah Makassar terus menjaga, meningkatkan fasilitas dan melestarikan benteng tersebut sebagai sarana kunjungan wisata dan edukasi bagi masyarakat Makassar, Indonesia, bahkan dunia.