pencarian properti investasi pertama… (bagian 1)

Pertengahan Oktober 2007 cuti lagi ke Surabaya. Sesuai buku Real Estate Riches dalam mencari properti gunakan rumus 100: 10: 3: 1, maka mulailah melihat-lihat iklan properti di koran Jawa Post. Bersama istri tercinta, mulailah telpon sana-sini, tanya sana-sini kemudian lihat properti sana sini, tanpa memiliki mentor hanya berpedoman pada buku Real Estate Riches.

Banyak pemilik tanah, rumah, rumah kost yang ditelponi tapi kok rasanya tidak ada yang pas. Apakah perjalanan ini akan segera berakhir sia-sia?

Masa cuti hampir berakhir namun belum ada properti yang nyangkut, disamping itu rasa lelah dan putus asa mulai merasuki pikiran. Akhirnya masa cutipun berakhir dan harus kembali ke Papua sia-sia, namun sempat titip pesan ke istri agar terus mencari properti yang dirasa prospek.

Dari tempat kerja tiap hari nelpon istri menanyakan apakah ada properti yang bisa dianggap prospek? Namun jawaban nihil. Hingga suatu hari istri tercinta memberitahu ada 2 tanah yang dianggap prospek, satu di Siwalankerto atau Semolowaru (saya lupa pastinya, karena bukan orang Surabaya hehehe…) dekat dengan kampus berbagai universitas dan banyak tempat kos mahasiswa dan satu lagi di Sidosermo dekat dengan jalan besar Jemursari. Saya putuskan saya lihat pada saat cuti lagi, yang mana yang paling cocok buat saya.

Akhir Desember 2007 cuti dengan perasaan senang karena akan melihat properti masa depan. Setelah melihat kedua tanah tersebut ternyata hati/insting saya mengatakan tanah di Sidosermo Indah lebih prospek. Padahal ini pertama kali mau beli properti untuk investasi dan belum berpengalaman sama sekali, hanya mengikuti kata hati/insting. (Sebelumnya memang sudah pernah beli rumah, 1 di Makassar di kompleks Telkomas. Rumah ini sudah saya jual tahun 2005 untuk membeli rumah ke-2 di Surabaya, tepatnya di Citra Harmoni. Rumah ke-2 ini juga sudah saya jual untuk meneruskan pembangunan rumah kost di tanah yang saya beli dalam tulisan ini).

Setelah ini putar otak bagaimana cara membeli tanah tersebut, karena uang dikantong tidak cukup untuk harga tanah yang lumayan mahal… (bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s